TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
TEORI BEHAVIORISME J.B. WATSON
Ratih Mayasita
06122503014
Teori belajar
behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh
terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan
dan pembelajaran
yang dikenal sebagai aliran behaviorisme. Aliran ini menekankan pada
terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori
behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu
dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku
akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
Belajar
merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus
dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika
dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar
yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon
berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh
guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting
untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan
oleh guru
(stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati
dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu
hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku
tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behaviorisme
adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon
dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Salah satu tokoh aliran behaviorisme adalah John Broades Watson. J.B.Watson
dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City
pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of
Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul “Animal
Education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan
tentang psikologi binatang.
Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi
eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore
dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut.
Antara tahun 1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang
psikologi konsumen.
John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di
Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as
the Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson dalam beberapa karyanya,
psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak
mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson
juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari
ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan
ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkah laku yang nyata saja.
Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran
Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode-metode
obyektif dalam psikologi.
Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting. Ia
menekankan pentingnya pendidikan dalam
perkembangan tingkah laku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning
tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak
mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim
untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: “Berikan kepada saya
sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan
kehendak saya”.
Pandangan
utama Watson
Kajian J.B. Watson banyak dipengaruhi
oleh Teori Pelaziman Klasik Pavlov. Menurut Watson, tingkah laku adalah reflex
terlazim yaitu sesuatu gerak balas yang di pelajari melalui proses pelaziman klasik.
Selain tingkah laku, Watson turut menjalankan kajian terhada pembelajaran emosi
manusia. Menurut beliau, manusia mewarisi tiga jenis emosi yaitu takut, marah dan
kasih sayang. Beberapa pandangan
utama Watson:
1.
Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R
Psychology). Yang dimaksud dengan stimulus adalah semua obyek di lingkungan,
termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang
dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana
hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt
dan covert, learned dan unlearned
2. Tidak mempercayai unsur herediter
(keturunan) sebagai penentu perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar
sehingga unsur lingkungan sangat penting. Dengan demikian pandangan Watson
bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal,
bukan berdasarkan free will.
3. Dalam kerangka mind-body, pandangan
Watson sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu
yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan
berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai
obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah
ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini,
meskipun dalam derajat yang berbeda-beda.
4. Sejalan dengan fokusnya terhadap
ilmu yang obyektif, maka psikologi harus menggunakan metode empiris. Dalam hal
ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal
reports.
5. Secara bertahap Watson menolak konsep
insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya
milik anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali
kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
- Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert).
- Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain, sejauhmana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
- Proses thinking and speech terkait erat. Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.
- Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adalah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.
Percobaan Watson
Pendekatan baru dari
Watson menolak keberadaan kesadaran. Dia mengatakan bahwa emosi adalah
RANGSANGAN lingkungan dan RESPONS dari dalam diri yang dapat diukur. seperti
denyut nadi, pernapasan dan wajah yang memerah. Watson berpendapat bahwa bayi
memiliki tiga emosi dasar.
Takut:disebabkan oleh suara keras, kehilangan dukungan secara tiba-tiba.
Takut:disebabkan oleh suara keras, kehilangan dukungan secara tiba-tiba.
Marah:
disebabkan oleh pembatasan gerakan tubuh
Cinta: disebabkan oleh belaian dan timangan.
Emosi lain adalah gabungan ketiga emosi tersebut.
Cinta: disebabkan oleh belaian dan timangan.
Emosi lain adalah gabungan ketiga emosi tersebut.
Hasil penelitian Watson
yang terkenal (1920) adalah mengenai bayi yang berusia 11 bulan bernama Albert.
Di perlihatkan pada bayi itu seekor tikus putih yang tidak ditakutinya. Di
belakangnya diperdengarkan suara keras dengan cara memukul batang baja dengan
palu. Rasa takut yang ditimbulkan oleh suara keras menyebabkan rasa takut
terkondisikan pada tikus. Albert
menggeneralisasikan rasa takut ini dengan rangsangan lain yang mirip, termasuk
dengan kelinci, mantel bulu, dan jenggot sinterklas. Watson berpendapat bahwa
rasa takut dan cemas pada manusia biasa berasal dari pengalaman masa
kanak-kanak yang mirip.
Teori
dan Konsep Behaviorisme dari Watson
Teori belajar S-R (stimulus – respon) yang langsung ini
disebut juga dengan koneksionisme menurut Thorndike, dan behaviorisme menurut
Watson, namun dalam perkembangan besarnya koneksionisme juga dikenal dengan
psikologi behavioristik.
Stimulus dan respon (S-R) tersebut memang harus dapat
diamati, meskipun perubahan yang tidak dapat diamati seperti perubahan mental
itu penting, namun menurutnya tidak menjelaskan apakah proses belajar tersebut
sudah terjadi apa belum. Dengan asumsi demikian, dapat diramalkan
perubahan apa yang akan terjadi pada anak.
Teori perubahan perilaku (belajar) dalam kelompok
behaviorisme ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Segala perilaku
manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah
yang membentuk kepribadian manusia. Behaviorisme tidak bermaksud
mempermasalahkan norma-norma pada manusia. Apakah seorang manusia tergolong
baik, tidak baik, emosional, rasional, ataupun irasional. Di sini hanya
dibicarakan bahwa perilaku manusia itu sebagai akibat berinteraksi dengan
lingkungan, dan pola interaksi tersebut harus bisa diamati dari luar. Belajar
dalam teori behaviorisme ini selanjutnya dikatakan sebagai hubungan langsung
antara stimulus yang datang dari luar dengan respons yang ditampilkan oleh
individu. Respons tertentu akan muncul dari individu, jika diberi stimulus dari
luar.
Pada umumnya teori belajar yang termasuk ke dalam keluarga
besar behaviorisme memandang manusia sebagai organisme yang
netral-pasif-reaktif terhadap stimuli di sekitar lingkungannya. Orang akan
bereaksi jika diberi rangsangan oleh lingkungan luarnya. Demikian juga jika
stimulus dilakukan secara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama, akan
berakibat berubahnya perilaku individu. Misalnya dalam hal kepercayaan sebagian
masyarakat tentang obat-obatan yang diiklankan di televisi. Mereka sudah tahu
dan terbiasa menggunakan obat-obat tertentu yang secara gencar ditayangkan media
televisi. Jika orang sakit maag maka obatnya adalah promag, waisan, mylanta,
ataupun obat-obat lain yang sering diiklankan televisi. Jenis obat lain tidak
pernah digunakannya untuk penyakit maag tadi, padahal mungkin saja secara
higienis obat yang tidak tertampilkan, lebih manjur.
Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R ini
adalah adanya unsur: dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respons, dan
penguatan (reinforcement). Unsur yang pertama, dorongan, adalah suatu
keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang sedang
dirasakannya. Seorang anak merasakan adanya kebutuhan akan tersedianya sejumlah
uang untuk membeli buku bacaan tertentu, maka ia terdorong untuk membelinya
dengan cara meminta uang kepada ibu atau bapaknya. Unsur dorongan ini ada pada
setiap orang, meskipun kadarnya tidak sama, ada yang kuat menggebu, ada yang
lemah tidak terlalu peduli akan terpenuhi atau tidaknya.
Unsur berikutnya adalah rangsangan atau stimulus. Unsur ini
datang dari luar diri individu, dan tentu saja berbeda dengan dorongan tadi
yang datangnya dari dalam. Contoh rangsangan antara lain adalah bau masakan
yang lezat, dan rayuan gombal.
Dalam dunia aplikasi komunikasi instruksional, rangsangan
bisa terjadi, bahkan diupayakan terjadinya yang ditujukan kepada pihak sasaran
agar mereka bereaksi sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan mengajar
ataupun kuliah, di mana banyak pesertanya yang tidak tertarik atau mengantuk,
maka sang komunikator instruksional atau pengajarnya bisa merangsangnya dengan
sejumlah cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan bertanya tentang
masalah-masalah tertentu yang sedang trendy saat ini, atau bisa juga
dengan mengadakan sedikit humor segar untuk membangkitkan kesiagaan peserta
dalam belajar.
Dari adanya rangsangan atau stimulus ini maka timbul reaksi
di pihak sasaran atau komunikan. Bentuk reaksi ini bisa bermacam-macam,
bergantung pada situasi, kondisi, dan bahkan bentuk dari rangsangan tadi.
Reaksi-reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar inilah
yang disebut dengan respons dalam dunia teori belajar ini. Respons ini
bisa diamati dari luar. Respons ada yang positif, dan ada pula yang negatif.
Yang positif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukan respons
terhadap stimulus yang ada, dan tentunya yang sesuai dengan yang diharapkan.
Sedangkan yang negatif adalah apabila seseorang memberi reaksi justru
sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.
Unsur yang keempat adalah masalah penguatan (reinforcement).
Unsur ini datangnya dari pihak luar, ditujukan kepada orang yang sedang
merespons. Apabila respons telah benar, maka diberi penguatan agar individu
tersebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi.
Seorang anak kecil yang sedang mencoreti buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba
dibentak dengan kasar oleh kakaknya, maka ia bisa terkejut dan bahkan bisa
menderita guncangan sehingga berakibat buruk pada anak tadi. Memang anak tadi tidak
mencoreti buku lagi, namun akibat yang paling buruk di kemudian hari adalah
bisa menjadi trauma untuk mencoreti buku karena takut bentakan. Bahkan yang
lebih dikhawatirkan lagi akibatnya adalah jika ia tidak mau bermain dengan buku
lagi atau alat tulis lainnya. Itu penguatan yang salah dari seorang kakak
terhadap adiknya yang masih kecil ketika sedang mau memulai menulis buku.
Barangkali akan lebih baik jika kakaknya tadi tidak dengan cara membentak
kasar, akan tetapi dengan bicara yang halus sambil membawa alat tulis lain
berupa selembar kertas kosong sebagai penggantinya. Misalnya, “Bagus!, coba
kalau menggambarnya di tempat ini, pasti lebih bagus”.
Dengan cara penguatan seperti itu, sang anak tidak merasa
dilarang menulis. Itu namanya penguatan positif. Contoh penguatan positif lagi,
setiap anak mendapat ranking bagus di sekolahnya, orang tuanya memberi hadiah
berwisata ke tempat-tempat tertentu yang menarik, atau setidaknya dipuji oleh
orang tuanya, maka anak akan berusaha untuk mempertahankan rankingnya tadi pada
masa yang akan datang.
REFERENSI
Anita, E. Educational
psychology. 1998. Allyn and Bacon: United States of America.
Djiwandono, Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Grasindo: Jakarta.
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational
Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally.
Slavin,
Robert E. 2000. Psikologi Pendidikan: Teori
dan Praktik. Indeks.
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik
kebalikan dari teori humanistik ..
ReplyDeleteterimakasih
ReplyDeleteproses thinking and speech tu maksudnya bagaimana ya?
ReplyDelete